Kabupaten Bandung Barat – Himpunan Penggemar Domba Ketangkasan (HPDK) menggelar ajang bergengsi kontes seni ketangkasan domba garut, bertajuk piala ayam ningrat vol 1 di Pamidangan BBS De Landenn, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa barat pada 25-26 April 2026.

Sedikitnya Empat Ribu orang antusias menyaksikan kontes seni ketangkasan yang diikuti oleh 700 Peserta dari berbagai daerah di jawa barat, salah satunya padepokan Mustika Jaya Pimpinan H. Deden Mulyana.

Padepokan Mustika Jaya asal Ciwidey, Kabupaten Bandung ini mendominasi perebutan prestasi piala di sejumlah kelas yang diperlombakan.

Pimpinan Padepokan Mustika Jaya H. Deden Mulyana mengungkapkan bahwa keikutsertaannya dalam ajang ini bukan sekadar kompetisi, melainkan bagian dari upaya menjaga warisan budaya.

“Kami selalu mengikuti momen ini karena ini bagian dari seni budaya Sunda yang harus kita kembangkan dan jaga. Selain itu, dari kegiatan ini muncul ekosistem perekonomian masyarakat yang baru,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Minggu (26/4/2026).

Ia menambahkan, setiap gelaran seni ketangkasan domba Garut mampu mendorong tumbuhnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Banyak UMKM bermunculan, ada yang berjualan pakaian, makanan, hingga aksesoris terkait domba. Ekonomi masyarakat juga ikut terangkat,” katanya.

Tidak hanya berdampak pada sektor UMKM, menurut Deden, kegiatan ini juga meningkatkan nilai jual domba Garut secara signifikan. “Harga domba yang sebelumnya di kisaran lima sampai tujuh juta rupiah, sekarang bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Ini tentu meningkatkan kesejahteraan para peternak,” jelasnya.

H. Deden Mulyana dari Padepokan Mustika Jaya asal Ciwidey, Kabupaten Bandung

H. Deden Mulyana dari Padepokan Mustika Jaya asal Ciwidey, Kabupaten Bandung

Dalam ajang ini, Padepokan Mustika Jaya membawa 21 ekor domba yang bertanding di berbagai kelas, yakni A, B, dan C. Pembagian kelas tersebut didasarkan pada bobot domba, mulai dari kelas C dengan bobot kecil, kelas B menengah, hingga kelas A dengan bobot besar.

Lebih lanjut, Deden menjelaskan bahwa penilaian dalam seni ketangkasan domba Garut tidak semata-mata ditentukan dari adu fisik. “Yang dinilai itu banyak aspek, mulai dari kesehatan, teknik bertanding, teknik pukulan, hingga kebersihan, bentuk tanduk, postur atau adeg-adeg, dan penampilan. Jadi bukan sekadar adu saja,” paparnya.

Ia juga menegaskan bahwa dalam seni ketangkasan domba Garut tidak terdapat unsur perjudian. “Tidak ada perjudian sedikit pun, karena kita tidak pernah tahu siapa yang akan menang. Semua ditentukan oleh juri berdasarkan berbagai faktor penilaian,” tegasnya.

Terkait perawatan, Deden mengakui bahwa domba Garut untuk seni ketangkasan membutuhkan perhatian khusus. “Perawatannya berbeda dengan domba biasa. Ada pijat khusus, salon domba, pakan dan vitamin khusus. Biayanya cukup besar,” ungkapnya.

Ia menyebutkan, beberapa domba di padepokannya memiliki nilai jual tinggi. “Ada yang harganya puluhan juta, bahkan yang pernah juara bisa terjual di atas seratus juta rupiah. Kami juga pernah meraih berbagai prestasi, mulai dari juara satu hingga Best of The Best, bahkan pernah masuk lima besar di ajang Piala Presiden,” tuturnya.

Menurutnya, “Piala Ayam Ningrat Vol. I” menjadi salah satu kompetisi paling bergengsi karena diikuti peserta dari berbagai daerah di Jawa Barat, seperti Cianjur, Pangandaran, Indramayu, hingga Majalengka.

“Ini ajang bergengsi, apalagi hadiah utama Best of The Best berupa mobil. Hampir seluruh kabupaten dan kota di Jawa Barat ikut ambil bagian,”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *